Mengenal Tradisi “Tajen”, Permainan Adu Jago Di Bali

CeritaKita.info – Salah satu destinasi wisata paling populer di indonesia yang membuat harum nama Indonesia ada Bali. Barangkali bagi kita orang Indonesia tidak mungkin mengenal salah satu provinsi yang dikenal diseluruh dunia ini.

Secara geografis, Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Dimana kebudayaan Bali yang ramah tamah ini menjadi simbol orang Indonesia sehingga banyak turis yang datang ke Bali untuk berlibur.

Selain daerahnya yang sangat Indah, ternyata di Bali juga terdapat sebuah permainan rakyat yang masih dimainkan hingga saat ini. Permainan tersebut adalah permainan adu jago atau sabung ayam yang dikenal dengan nama Tajen.

Tajen

Tajen merupakan simbol persembahan untuk Dewa agar pengaruh negatif tidak menggangu dan manusia bisa terhindar dari marabahaya. Biasanya kegiatan ini diadakan pada saay upacara adat Bali yang dikenal dengan nama Tabuh Rah.

Permainan ini merupakan salah satu kegiatan hiburan bagi masyarakat Bali. Sebenarnya Tajen Bali sangat berbeda dengan Sabung Ayam, karena Sabung Ayam memiliki maksud hanya untuk hiburan semata saja sedangkan Tajen Bali merupakan salah satu acara keagamaan yang bernama Tabuh Rah.

Tajen pada masa lalu diarahkan untuk memenuhi fungsi yadnya berupa Tabuh Rah, antara lain Tajen Nyuh dan Tajen Taluh. Kedua Tajen jenis ini dilaksanakan setelah tari kincang-kincung, berupa tarian dengan sarana tombak dan keris pada menjelang upacara piodalan selesai.

Dalam permainan Tajen juga dikenal istilah atau penamaan untuk ayam yakni sebagai berikut.

  • Buik, merupakan sebutan untuk Ayam Jago yang bulunya berwarna-warni
  • Kelau atau kelawu, untuk ayam jago berbulu abu-abu
  • Bihing atau Biying, sebutan ayam jago yang berbulu merah
  • Wangkas, sebutan untuk ayam jago yan dadanya berbulu putih dengan sayapnya berwarna merah
  • Brumbun untuk “petarung” dengan kombinasi bulu merah, putih, dan hitam.
  • Sa, sebutan ayam berbulu putih.
  • Ook, sebutan untuk ayam jago yang memiliki keadaan bulu leher sangat lebat
  • Jambul, merupakan sebutan untuk ayam jago bila tumbuh bulu (jambul) di kepala
  • Godek, untuk ayam yang berbulu dikaki.
  • Sangkur, untuk ayam jago dimana keadaan fisiknya tanpa bulu ekor

Dalam masyarakat Bali terutama di kalangan tajen ini lah muncul mitos yang bermakna kalah atau menang. Bagi mereka kemenangan sudah bukan menjadi persoalan serius. Yang dihindari oleh Bebotoh justru akan ditimpa kesialan. Mengapa?

Ada keyakinan yang mbalung sungsum (mendarah daging) dalam dunia persabungan itu. Para bebotoh sangat yakin, jika dalam perjalanan ke arena sabung ayam mereka disapa, itu alamat lepet (sial) mereka akan kalah. Berjalan di desa sendiri, tentu banyak kerabat, sulit menghindarkan diri tidak disapa.