Setiap Bulannya, Terdapat 60 Orang Janda Muda di Kotawaringin Barat

Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) setidaknya terdapat 785 perceraian selama tahun 2018. Perkara ini tentunya mengakibatkan sekitar 60 orang menyandang status janda dan duda baru setiap bulannya.

Pihaknya membukukan ada 1093 perkara perceraian yang masuk. Lebih tinggi dari data sebelumnya dimana terhitung total 985 perkara yang masuk, 785 adalah perkara perceraian dan sekitar 720 perkara dikabulkan gugatan perceraiannya. Berdasarkan data-data tersebut, setidaknya terdapat sekitar 60an orang yang menjadi janda atau dua baru.

Menurut Humas Pengadilan Agama Pangkalan Bun Ahmad Zuhri, jumlah kasus yang terjadi selama tahun 2018 setidaknya mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2017. Karena pada tahun sebelumnya angka perkara yang masuk mencapai 1.300 perkara.

“Berdasarkan data tahun 2017 lalu, terdapat 1.300 perkara yang kami tangani terutama perkara perceraian. Tahun ini ada penurunan jumlah perkara yang masuk,” kata Ahmad Zuhri, saat dikonfirmasi awak media.

Ia juga menjelaskan faktor yang menjadi penyebab tingginya angka perceraian yang terjadi di Kotawaringin Barat disebabkan beberapa faktor seperti faktor ekonomi, hadirnya pihak ketiga dan juga ketidak cocokan dalam menjalami rumah tangga.

“Berdasarkan hasil rekapitulasi perkara perceraian yang ditangani terdapat tiga faktor yang dianggap menjadi penyebab tingginya angka perceraian. Namun aktor pertama adalah karena masalah ekonomi, kedua disebabkan adanya orang ketiga dalam pernikahan atau faktor perselingkuhan. Sedangkan faktor ketiga adalah kurang baiknya komunikasi antara pasangan suami istri sehingga menyebabkan keretakan dalam rumah tangga,” jelasnya.

Pengadilan Agama tetap melakukan mediasi terhadap pengajuan perceraian. Karena perceraian tidak menguntungkan, justru sebaliknya merugikan bagi pasangan tersebut.  Lebih rata-rata perceraian dilakukan oleh pasangan usia produktif, yakni diperkirakan antara 30 tahun hingga 40 tahun. Sudah banyak yang punya anak.

“Jadi kami tidak perlu ada yang menjadi korban perceraian ini. Perlu kami lakukan mediasi. Agar supaya mereka bisa merujuk dan ganti perceraian ini,” kata Norhadi.

Di sisi lain, jaringan sosial juga berperan memicu terjadinya perceraian di kalangan suami-istri yang masih muda. Para pasangan muda tersebut belum mempunyai pondasi yang kokoh untuk menjalani komitmen pernikahan, sehingga akhirnya mereka bercerai.